Panduan dalam Menilai Kinerja Kontraktor Lapangan Olahraga

Cara Menilai Kinerja Kontraktor Lapangan Olahraga
Daftar Isi

Jika Anda ingin proyek lapangan olahraga sukses, Anda harus menguasai cara menilai kinerja kontraktor lapangan olahraga sejak awal. Dengan langkah yang tepat, Anda bisa mengontrol kualitas pekerjaan sekaligus menjaga anggaran tetap efisien.

Indikator Penilaian Kinerja Kontraktor Lapangan Olahraga

Agar investasi Anda tidak sia-sia, Anda perlu menerapkan standar penilaian kinerja kontraktor lapangan olahraga dan standar pemilihan kontraktor lapangan olahraga, berikut sebagai acuan dalam menilai performa dan hasil kerja kontraktor.

1. Kepatuhan Desain dan Spesifikasi Teknis

Salah satu cara menilai kinerja kontraktor lapangan olahraga yang paling penting adalah memastikan kontraktor mematuhi shop drawing yang telah mendapat persetujuan konsultan pengawas. Dengan langkah ini, Anda dapat mencegah kesalahan ukuran dan meghindari potensi revisi yang memakan biaya tambahan.

Contohnya, Anda bisa memverifikasi secara langsung beberapa standar dimensi berikut sesuai jenis lapangan:

  • Lapangan futsal standar FIFA: 40,00 x 20,00 m (toleransi ±5 cm)
  • Lapangan padel: 20,00 x 10,00 m (toleransi ±2 cm)
  • Lapangan badminton standar IHF: 13,40 x 6,10 m (toleransi ±1 cm)

Selain ukuran fisik, pastikan kontraktor menerapkan BIM clash detection untuk meminimalkan potensi benturan desain dan mengintegrasikan sistem mechanical, electrical, dan plumbing agar instalasi berjalan efisien.

2. Kualitas Fondasi dan Struktur Bawah Tanah

Dalam aspek ini, pastikan fondasi pile bore dan hasil capacity test mencapai minimal 150% dari design load sesuai SNI 8460:2017. Evaluasi kepadatan subgrade harus menunjukkan compaction minimal 98%.

Kemudian, proctor density harus punya nilai CBR di atas 30 untuk lapangan dengan beban berat. Selain itu, pastikan sistem drainase French drain PVC yang mampu mengalirkan air dengan setidaknya debit 50 liter per menit.

3. Integritas Struktur Utama dan Baja Rangka

Ketika memeriksa integritas struktur utama lapangan tersebut, pastikan seluruh sambungan kritis baja S355JR telah melalui uji las ultrasonic test pada 100% joint. Beton struktur harus menggunakan mutu K-350 dengan kuat tekan f’c 350 kg/cm² dan hasil uji silinder 28 hari melebihi 42 MPa. 

Tidak lupa juga, evaluasi harus mencakup pengencangan anchor bolt menggunakan torque wrench dengan nilai 150 Nm dan penerapan epoxy anti-korosi setebal 300 micron pada struktur bawah tanah.

4. Kualitas Material Lapisan Permukaan Olahraga 

Pastikan kontraktor menggunakan rumput sintetis standar FIFA 2-star dengan monofilament 3G atau 4G berbahan PE 11.000 dtex. Selain itu, periksa hasil uji abrasi (Lisport test) di atas 60 cycles. Kemudian, shockpad SBR harus memiliki ketebalan 25 mm dengan densitas 650 kg/m³. 

Sementara itu, untuk lapangan seperti badminton, pastikan vinyl seperti Gerflor Taraflex Evolution setebal 5.8 mm punya tingkat abrasi di bawah 0.5 mm dan slip resistance DIN 51130 R10.

5. Sistem Pencahayaan dan Elektrikal

Untuk memastikan sistem pencahayaan optimal, lapangan harus memakai LED floodlight, seperti Philips ArenaVision dengan efisiensi 1.400 lumen per watt. Pengukuran lux harus menunjukkan 1.000 lux di tengah lapangan dengan uniformity U1 lebih dari 0.7 dan glare rating di bawah GR 19. 

Selain itu, seluruh lampu harus lulus uji IES LM-79 di laboratorium. Evaluasi juga harus mencakup kinerja seperti genset atau bahkan sistem penangkal petir.

6. Finishing dan Fasilitas Pendukung

Anda juga harus memastikan kontraktor menyelesaikan area finishing dan fasilitas pendukung sesuai standar keselamatan serta kenyamanan pengguna.

Pastikan tribun lapangan memiliki handrail stainless steel untuk meningkatkan keamanan pengunjung. Selain itu, arahkan kontraktor untuk melengkapi ruang ganti dengan serta shower yang sesuai standar.

7. Pengujian Fungsional dan Sertifikasi

Pada tahap uji coba, setiap jenis lapangan harus memenuhi standar fungsional sesuai cabang olahraga terkait. 

Contohnya, lapangan basket harus memenuhi FIBA bounce test dengan tinggi pantulan 1.35 hingga 1.55 meter. Sementara itu, lapangan tenis atau padel harus memiliki ITF pace rating antara 35 hingga 40 ITR. Di sisi lain, lapangan sepak bola atau futsal harus lolos uji FIFA ball roll pada jarak 6 hingga 10 meter serta player-surface traction di rentang 0.65 hingga 0.85. 

Untuk lapangan indoor seperti badminton, pengujian akustik harus menunjukkan kebisingan di bawah 70 dB, flicker pencahayaan kurang dari 1%, dan permeabilitas air 60 liter per meter persegi per jam.

8. Kepatuhan Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan (K3L)

Dalam aspek K3L, pastikan proyek tidak mencatat Lost Time Accident dengan tingkat kepatuhan penggunaan APD sebesar 100% serta seluruh pekerja mengikuti safety induction selama 40 jam. 

Lingkungan kerja juga harus menjaga tingkat kebisingan di bawah 85 dB dan konsentrasi debu PM2.5 di bawah 50 µg/m³. Selain itu, evaluasi juga seperti kepemilikan sertifikat SMK3 dari Kemnaker serta persetujuan dokumen AMDAL atau UKL-UPL oleh KLHK.

9. Manajemen Proyek dan Kepatuhan Jadwal

Selama proses pembangunan, pengendalian proyek harus menunjukkan nilai Earned Value Management dengan Cost Performance Index di atas 0.95 dan Schedule Performance Index di atas 0.98. 

Selain itu, waktu respons RFI tidak boleh lebih dari 48 jam dan kontraktor harus bisa verifikasi as-built drawing melalui survei drone dengan toleransi ±3 cm.

10. Utilisasi dan ROI Pasca Serah Terima

Ketika pembangunan selesai dan waktunya serah terima, tingkat utilisasi lapangan itu harus mencapai 85% pada tahun operasional pertama dengan potensi profit sebesar Rp 400.000–800.000/jam dari sewa. 

Tidak lupa, biaya perawatan tahunan harus di bawah 3% dari replacement value. Kemudian, kepuasan pelanggan harus menunjukkan Net Promoter Score di atas 85 dari minimal 200 responden. 

Tidak kalah penting, tingkat cedera pengguna juga tidak boleh melebihi 1 kasus per 1.000 jam penggunaan, dan sistem sensor IoT harus beroperasi dengan uptime 99.5%.

11. Inovasi Teknologi dan Sustainability Metrics

Untuk memenuhi aspek sustainability, pastikan platform IoT mampu melacak penggunaan lapangan dengan tingkat akurasi 95% serta sistem AI mampu memprediksi keausan permukaan hingga 6 bulan lebih awal. 

Lebih jauh lagi, kontribusi energi surya harus mencapai 40% dari kebutuhan energi tahunan dan sistem daur ulang air mencapai 70%.

12. Dokumentasi dan Knowledge Transfer

Cara menilai kinerja kontraktor lapangan olahraga yang terakhir adalah memastikan seluruh dokumentasi serah terima tersedia lengkap, termasuk as-built manual sebanyak 5 volume dan dokumen SOP operasional dan perawatan. 

Terakhir, kontraktor wajib menyerahkan daftar vendor, daftar suku cadang, dan Bill of Material secara lengkap. Selama masa defect liability period satu tahun, tidak boleh ada punch list yang tersisa.

Pilih Bangun Lapangan sebagai Mitra Pembangunan Fasilitas Olahraga Anda

Dengan pengalaman lebih dari 14 tahun dan 1.100 klien, Bangun Lapangan mengutamakan eksekusi pengerjaan yang rapi, manajemen proyek yang efektif, serta penggunaan material berkualitas tinggi sebagai standar utama setiap proyek.

Kami menerapkan pengawasan ketat untuk memastikan setiap lapangan dibangun dengan tingkat keamanan konstruksi yang baik dan memberikan kenyamanan optimal bagi pengguna. Kombinasi kualitas material dan ketelitian pengerjaan membantu menjaga performa lapangan dalam jangka panjang.

Jika Anda ingin menerapkan konstruksi lapangan olahraga secara profesional, Bangun Lapangan siap menjadi mitra terpercaya untuk proyek Anda. Silakan hubungi tim kami untuk konsultasi lebih lanjut.

 

Konsultasi Eksklusif dengan Tim Ahli Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Relate Post